Tampilkan postingan dengan label dongeng anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dongeng anak. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 23 Juni 2012

putri tidur

Dahulu kala, ada sepasang Raja dan Ratu yang berbahagia, karena setelah bertahun-tahun lamanya, akhirnya Ratu melahirkan seorang Puteri.

Raja dan Ratu mengundang tujuh peri untuk datang dan memberkati Puteri yang baru saja lahir itu.

Dalam acara megah yang diselenggarakan sebagai penghormatan kepada para peri itu, masing-masing peri memberikan berkat kepada sang Puteri.

Peri pertama mengatakan “Kamu akan menjadi Puteri tercantik di dunia.”Peri kedua mengatakan “Kamu akan menjadi seorang Puteri yang periang.”Peri ketiga mengatakan “Kamu akan selalu mendapatkan banyak kasih sayang.”Peri keempat mengatakan “Kamu akan dapat menari dengan sangat anggun.”Peri kelima mengatakan “Kamu akan dapat bernyanyi dengan sangat merdu.”
Peri keenam mengatakan “Kamu akan sangat pintar memainkan alat musik.”

Tiba2 datang peri tua ke tengah acara itu. Ia sangat marah karena tidak diundang. Semua orang memang sudah lama tidak pernah melihat peri tua itu, dan mengira bahwa ia sudah meninggal atau pergi dari kerajaan itu.

Peri tua yang marah itu mendekati sang Puteri dan mengutuknya “Jarimu akan tertusuk jarum pintal dan kamu akan mati!” dan kemudian peri tua itu pun menghilang.

Semua orang sangat terkejut. Ratu pun mulai menangis.

Peri ketujuh mendekati sang Puteri dan memberikan berkatnya “Aku tidak bisa membatalkan kutukan, tapi aku dapat memberikan berkatku supaya Puteri tidak akan mati karena terkena jarum pintal, melainkan hanya tertidur pulas selama seratus tahun. Setelah seratus tahun, seorang Pangeran tampan akan datang untuk membangunkannya.”

Raja dan Ratu merasa sedikit lega mendengarnya. Mereka lalu mengeluarkan peraturan baru bahwa di kerajaan itu tidak boleh ada alat pintal satu pun. Mereka menyita dan menghancurkan semua alat pintal yang ada di kerajaan itu demi selamatan sang Puteri. Pada suatu hari disaat Puteri berusia 18 tahun, Raja dan Ratu pergi sepanjang hari.

Karena kesepian, sang Puteri berjalan-jalan menjelajahi istana dan sampai di sebuah loteng. Disana ia menjumpai seorang wanita tua yang sedang memintal benang menggunakan alat pintal.  Karena belum pernah melihat alat pintal, sang Puteri sangat tertarik dan ingin mencoba. 

Wanita tua itu sebenarnya adalah peri tua jahat yang dulu mengutuknya. Saat sang Puteri mencoba alat pintal itu, ia pun dengan sengaja menusukkan jarum pintal ke tangan sang Puteri.  

Sang Puteri jatuh tak sadarkan diri dan tertidur karena terkena kutukan. Peri tua jahat tertawa puas dan menghilang dalam kegelapan. 

Saat Raja dan Ratu kembali, mereka dan seluruh pegawai kerajaan kebingungan mencari sang Puteri. Saat mereka menemukannya, Raja tersadar bahwa kutukan peri tua jahat telah menjadi kenyataan. Sang Puteri lalu dibawa ke kamarnya dan dibaringkan di tempat tidurnya. Raja lalu mengirimkan kabar mengenai peristiwa itu ke peri ketujuh yang baik hati. 

Peri ketujuh yang baik hati lalu bergegas ke istana. Ia memutuskan untuk menidurkan semua orang di kerajaan itu supaya kelak saat kutukan sang Puteri berakhir mereka semua akan bangun bersama-sama.  

Dalam waktu singkat pohon-pohon besar dan semak belukar yang lebat dan berduri tumbuh di seluruh wilayah kerajaan, sehingga sangat sulit bagi siapapun untuk menerobosnya. Bahkan puncak-puncak istana pun hanya dapat terlihat ujungnya saja. Karena menjadi sangat tertutup, sang Puteri dan seluruh kerajaan menjadi aman, walaupun mereka semua tertidur.  

Setelah masa seratus tahun berakhir, seorang Pangeran tampan yang kebetulan sedang berburu di dekat wilayah kerajaan itu melihat pucuk-pucuk istana itu. Ia sudah banyak mendengar cerita tentang kerajaan itu, antara lain tentang istana yang dianggap berhantu, para penyihir, dan cerita-cerita lain yang sangat menyeramkan yang sebenarnya tidak benar.  

Karena penasaran, saat kembali dari berburu sang Pangeran mencari orang tua yang paling bijaksana dan pintar di kerajaan untuk menanyakan tentang kerajaan tetangga yang penuh misteri itu. 

Orang tua yang bijaksana itu lalu bercerita bahwa menurut leluhurnya, di dalam istana di kerajaan yang misterius itu terbaring seorang Puteri yang paling cantik di dunia, yang tertidur karena terkena kutukan dari peri tua jahat. Sang Puteri akan terus tidur hingga ada seorang Pangeran yang datang untuk membangunkannya.  

Pangeran tampan yang pemberani itu lalu bergegas berangkat menuju kerajaan misterius itu. Ia berniat untuk menyelamatkan sang Puteri. Sang Pangeran berjuang menembus semak belukar dan pepohonan untuk dapat mencapai kedalam wilayah kerajaan yang misterius itu. 

Sesampainya disana, ia melihat banyak sekali orang dan hewan peliharaan yang terbaring dimana-mana. Tetapi mereka tidak mati, sepertinya mereka hanya tertidur sangat nyenyak.  Pangeran lalu masuk ke dalam istana. Disana ia pun melihat seluruh pegawai kerajaan yang tertidur pulas. 

Setelah berjalan-jalan menjelajahi istana itu, sang Pangeran berhasil menemukan sang Puteri di sebuah kamar. Sang Pangeran terpesona oleh kecantikan sang Puteri. Pangeran pun berlutut dan memegang tangan sang Puteri. Saat itulah kutukan berakhir dan sang Puteri membuka matanya. Ia menyambut sang Pangeran yang telah lama ia tunggu dengan bahagia.

Dalam waktu yang bersamaan seluruh penghuni istana dan seluruh kerajaan terbangun. Semak belukar dan pepohonan menghilang. Semua orang kembali mengerjakan urusan mereka masing-masing. Raja dan Ratu juga terbangun dan segera menyambut sang Pangeran dari kerajaan tetangga itu.

Tak lama kemudian, sang Puteri dan sang Pangeran tampan menikah. Mereka lalu hidup berbahagia selamanya.

baca selanjutnya ..

keong mas

Di Kerajaan Daha, hiduplah dua orang putri yang sangat cantik jelita. Putri nan cantik jelita tersebut bernama Candra Kirana dan Dewi Galuh. Kedua putri Raja tersebut hidup sangat bahagia dan serba kecukupan.
Hingga suatu hari datanglah seorang pangeran yang sangat tampan dari Kerajaan Kahuripan ke Kerajaan Daha. Pangeran tersebut bernama Raden Inu Kertapati. Maksud kedatangannya ke Kerajaan Daha adalah untuk melamar Candra Kirana. Kedatangan Raden Inu Kertapati sangat disambut baik oleh Raja Kertamarta, dan akhirnya Candra Kirana ditunangkan dengan Raden Inu Kertapati.
Pertunangan itu ternyata membuat Dewi Galuh merasa iri. Kerena dia merasa kalau Raden Inu Kertapati lebih cocok untuk dirinya. Oleh karena itu Dewi Galuh lalu pergi ke rumah Nenek Sihir. Dia meminta agar nenek sihir itu menyihir Candra Kirana menjadi sesuatu yang menjijikkan dan dijauhkan dari Raden Inu. Nenek Sihir pun menyetujui permintaan Dewi Galuh, dan menyihir Candra Kirana menjadi Keong Emas, lalu membuangnya ke sungai. 

Suatu hari seorang nenek sedang mencari ikan dengan jala, dan keong emas terangkut dalam jalanya tersebut. Keong Emas itu lalu dibawanya pulang dan ditaruh di tempayan. Besoknya nenek itu mencari ikan lagi di sungai, tetapi tak mendapat ikan seekorpun. Kemudian Nenek tersebut memutuskan untuk pulang saja, sesampainya di rumah ia sangat kaget sekali, karena di meja sudah tersedia masakan yang sangat enak-enak. Si nenek bertanya-tanya pada dirinya sendiri, siapa yang mengirim masakan ini.
Begitu pula hari-hari berikutnya si nenek menjalani kejadian serupa, keesokan paginya nenek ingin mengintip apa yang terjadi pada saat dia pergi mencari ikan. Nenek itu lalu berpura-pura pergi ke sungai untuk mencari ikan seperti biasanya, lalu pergi ke belakang rumah untuk mengintipnya. Setelah beberapa saat, si nenek sangat terkejut. Karena keong emas yang ada ditempayan berubah wujud menjadi gadis cantik. Gadis tersebut lalu memasak dan menyiapkan masakan tersebut di meja. Karena merasa penasaran, lalu nenek tersebut memberanikan diri untuk menegur putri nan cantik itu. “Siapakah kamu ini putri cantik, dan dari mana asalmu?”, tanya si nenek. "Aku adalah putri kerajaan Daha yang disihir menjadi keong emas oleh nenek sihir utusan saudaraku karena merasa iri kepadaku", kata keong emas. Setelah menjawab pertanyaan dari nenek, Candra Kirana berubah lagi menjadi Keong Emas, dan nenek sangat terheran-heran.
Sementara pangeran Inu Kertapati tak mau diam saja ketika tahu candra kirana menghilang. Iapun mencarinya dengan cara menyamar menjadi rakyat biasa. Nenek sihirpun akhirnya tahu dan mengubah dirinya menjadi gagak untuk mencelakakan Raden Inu Kertapati. Raden Inu Kertapati Kaget sekali melihat burung gagak yang bisa berbicara dan mengetahui tujuannya. Ia menganggap burung gagak itu sakti dan menurutinya padahal raden Inu diberikan arah yang salah. Diperjalanan Raden Inu bertemu dengan seorang kakek yang sedang kelaparan, diberinya kakek itu makan. Ternyata kakek adalah orang sakti yang baik Ia menolong Raden Inu dari burung gagak itu.
Kakek itu memukul burung gagak dengan tongkatnya, dan burung itu menjadi asap. Akhirnya Raden Inu diberitahu dimana Candra Kirana berada, disuruhnya raden itu pergi kedesa dadapan. Setelah berjalan berhari-hari sampailah ia kedesa Dadapan Ia menghampiri sebuah gubuk yang dilihatnya untuk meminta seteguk air karena perbekalannya sudah habis. Di gubuk itu ia sangat terkejut, karena dari balik jendela ia melihat Candra Kirana sedang memasak. Akhirnya sihir dari nenek sihir pun hilang karena perjumpaan itu. Akhirnya Raden Inu memboyong tunangannya beserta nenek yang baik hati tersebut ke istana, dan Candra Kirana menceritakan perbuatan Dewi Galuh pada Baginda Kertamarta.
Baginda minta maaf kepada Candra Kirana dan sebaliknya. Dewi Galuh lalu mendapat hukuman yang setimpal. Karena Dewi Galuh merasa takut, maka dia melarikan diri ke hutan. Akhirnya pernikahan Candra kirana dan Raden Inu Kertapati pun berlangsung, dan pesta tersebut sangat meriah. Akhirnya mereka hidup bahagia.

baca selanjutnya ..

harimau dan kerbau

Ditulis oleh Kakak Koko
Cerita Rakyat Lombok
Dahulu kala, di suatu padang kering dan tandus hiduplah seekor kerbau kurus. Karena hampir tiap hari tak mendapatkan rumput, maka kerbau itu pergi ke padang yang lain. Sampailah dia ke padang dimana banyak rumputnya. Hatinya gembira melihat rumput hijau itu.
“Nah, inilah makananku,” gumamnya sendiri dan tersenyum.
Tapi tiba-tiba muncullah seekor harimau besar menghadangnya. Lalu dia berkata, “O, tidak mudah kau ambil makan di sini kecuali sudah mendapat ijinku.”
“Kalau begitu ijinkanlah aku memakannya,” pinta kerbau.
“Silakan, asal kau mau memberikan sesuatu padaku,” jawab harimau. “Sebab setiap siapa datang kemari untuk makan rumput pasti berjanji akan memberikan sesuatu untukku. Bagaimana kalau kau besok memberikan hatimu kepadaku?”

Kerbau berpikir sejenak.
“Biarlah akan kuberikan padamu,” akhirnya kerbau berjanji akan memberikan hatinya kepada harimau.
Beberapa hari kemudian harimau menemui kerbau, tapi si kerbau sudah mengerti maksud kedatangan harimau.
“Bagaimana janjimu, kerbau?” tanya harimau,
“Kau terlalu cepat menagih janjimu,” jawab kerbau. “Sabarlah besok kalau badanku sudah gemuk.”
Selang beberapa bulan kemudian badan kerbau memang sudah nampak gemuk. Karena itulah, maka harimau ingin segera kerbau memenuhi janjinya. Tapi si kerbau tak mau menyerahkan hatinya. Dia ingin mempertahankannya. “Kenapa aku harus menyerahkan satu-satunya hatiku? Padahal hanya karena aku makan rumput di sini. Bukankah rumput ini juga milikku?” pikirnya.
Mendengar geram harimau, kerbau siap melawannya. Dan memang terjadilah pertarungan sengit antara dua binatang itu. Lama juga pertarungan yang nampak saling serang menyerang itu. Tapi akhirnya kerbau tak kuat menahan serangan harimau. Dia lari. Tapi harimau terus mengejarnya.
Di tengah perjalanan kerbau berjumpa dengan kuda.
“Ada apa kau lari terengah-engah?” tanya kuda terheran-heran.
“Aku dikejar harimau. Hendak membunuhku,” jawab kerbau tersengal-sengal.
“Jangan kuatir! Bersembunyilah di balik badanku!” suruh kuda.
Ketika harimau datang terjadilah perkelahian antara harimau dan kuda. Mereka saling dorong mendorong. Saling memagut. Saling ingin merobohkan. Tapi akhirnya kuda pun terpaksa mengakui keperkasaan si raja hutan.
Kuda dan kerbau terpaksa lari menemui banteng.
“Tolong kawan, kami akan dibunuh harimau. Dia mengejarku sekarang. Tolonglah …” kata kuda gelisah.
“Baiklah. Jika harimau ingin membunuhmu, biarlah dia membunuh si banteng perkasa ini lebih dulu,” ujar banteng bangga. “Mana dia sekarang?”
Belum lagi kuda dan kerbau menjawab, harimau telah melompat dan menerkam banteng. Dia menerjangnya sekuat tenaga. Terjadilah pertarungan sengit. Tapi akhirnya bantengpun terpaksa menyerah kalah. Mereka bertiga lari tunggang langgang. Sedangkan harimau terus mengejarnya, seolah belum puas bila belum memakan ketiga binatang itu.
Sampailah mereka di sebuah padang rumput dimana terdapat sebuah sumur tua. Mereka bertemu dengan kambing dan memberitahukan kalau mereka dalam keadaan bahaya, hendak dibunuh harimau. Dan tanpa banyak kata kambing segera bersiap membantunya. Dia mengoleskan buah kaktus hingga badannya merah.
Tiba-tiba harimau datang dengan geramnya.
“Kamu lihat kerbau dan kawan-kawannya?” tanya harimau garang.
“Ya, kenapa?” jawab kambing.
“Mereka hendak kubunuh.”
“Mereka telah kubunuh semua, karena menggangguku. Kau pun akan kubunuh jika menggangguku. Lihatlah badanku sampai merah begini. Ketiga binatang itu telah kubinasakan.”
“Dimana mereka sekarang ?” kejar harimau belum puas.
“Kalau kau ingin melihat mereka, tengoklah sumur itu!”
Harimau heran. Lalu dia melongokkan kepalanya ke dalam sumur. Tapi belum lagi dia melihat isi sumur, banteng mendorongnya dari belakang hingga harimau terjerembab ke dalam sumur tua itu. Matilah harimau.

baca selanjutnya ..

putri duyung

Tersebutlah seorang raja laut yang ditinggalkan oleh permaisurinya. Maka hidupnya hanya ditemani oleh enam orang putrinya dengan diasuh oleh seorang neneknya.
Neneknya membuat perraturan, bahwa hanya jika sudah berusia lima belas tahun cucunya boleh muncul ke permukaan laut melihat dunia manusia.
“Kenapa harus begitu, Nek?” tanya seorang cucunya.
“Begitulah, agar kalian nampak cantik dilihat oleh manusia di daratan,” jawab neneknya.

Waktu pun berlalu. Satu perrsatu putri-putri itu tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik. Namun diantara putri-putri cantik itu yang paling cantik adalah Puteri Duyung bungsu.
Ombak akan tenang bilamana Puteri Duyung muncul ke permukaan laut.
Pada suatu hari Putri Duyung bungsu muncul di permukaan laut. Dilihatnya sebuah perahu semakin mendekatinya. “Alangkah tampannya penumpang perahu itu. O, yang itu lebih tampan lagi,” katanya kepada dirinya sendiri setelah dekat dengan perahu. Dia memang heran, karena penumpang yang dianggapnya paling tampan adalah Putra seorang raja.
Tiba-tiba cuaca berubah menjadi buruk. Angin taufan menyambar-nyambar perahu. Perahu jadi oleng. Dan akhirnya perahu itu tenggelam. Melihat kecelakaan tersebut Putri Duyung sangat kasihan kepada Putra Raja. Ditolongnya pemuda itu. Dalam keadaan pingsan Putra Raja diletakkan di tepi pantai, sedang dia sendiri kembali pulang kedasar laut.
Tapi sulit bagi Putri Duyung untuk melupakan wajah yang tampan itu. Maka dia menceritakannya kepada kakak-kakaknya apa yang telah dialaminya. Kakak-kakaknya tertawa memperolok.
“Pantas saja kau jadi pemurung kini,” kata salah seorang kakaknya.
Karena amat rindu kepada Putra Raja, Putri Duyung ingin pergi ke permukaan laut. Ingin menjumpai Putra Raja. Sebenarnya neneknya melarang agar jangan sekali-kali menjumpai Putra Raja, karena ekor Putri Duyung sangat buruk dan tak disukai oleh manusia. Namun Putri Duyung tetap berkemauan keras. Dia pergi kepada Pesihir.
“Aku bisa menolongmu, kau berkaki cantik asal suaramu boleh kuminta,” kata Pesihir.
“Baiklah,” jawab Putri Du¬yung.
“Minumlah obat ini jika kau sudah sampai di permukaan laut,”Putri Duyung mengangguk.
Sesampainya di permukaan laut, obat dari Pesihir itu diminumnya. Seketika itu juga dia pingsan. Tapi setelah siuman Putri Duyung melihat disampingnya telah duduk Putra Raja dengan tersenyum. Alangkah bahagia hati Putri Duyung. Tapi sayang ketika Putra Raja yang tampan menanyakannya, Putri Duyung tak bisa bersuara. Dia ingat bahwa suaranya telah diberikan kepada Pesihir. Dengan begitu Putra Raja seolah hanya berhadapan dengan seorang gadis cantik tetapi bisu. Kecewalah hati Putra Raja. Menangislah Putri Duyung ketika Putra Raja meninggalkannya. Dia pun jadi putus asa. Kemudian dia mencebur ke laut pulang ke istana ayahnya. Dia sangat malu kepada manusia. Itulah maka Putri Duyung selalu mengelak dari pandangan manusia.

baca selanjutnya ..

Jumat, 22 Juni 2012

kancil dan harimau

Kancil berlari layaknya tengah dikejar hewan pemangsa. Ia menerobos apa saja yang berada didepannya. Tingginya ilalang bukanlah penghalang, pohon menjulang tidak menjadi aral melintang. “aku harus berlari demi keselamatan diri” kata Kancil. Berlari dan berlari hanya itu yang bisa dilakukannya untuk menghindari kejaran Buaya. Kalau ia sampai tertangkap pastilah Buaya-buaya itu akan mencincangnya. Nafasnya terengah-engah karena sekian lama berlari, akhirnya ia berhenti di sebuah sendang, Kancil minum kemudian beristirahat. “aku telah membohongi Pak Tani dan Anjingnya, Kera, dan Buaya. Sekarang aku tengah menghadapi masalah yang berat karena Kera akan melaporkan aku kepada Harimau. Sang raja pasti akan memangasaku karena ini.” kata Kancil dalam hatinya. Ia duduk termenung dipinggir sendang itu merenungkan nasibnya. “aku pasti bisa menghadapinya.” Kancil menyemangati dirinya.
Merasa sudah cukup beristirahat, Kancil meneruskan perjalanannya yang tanpa tujuan. Langkahnya gontai menyusuri lebatnya hutan. Cukup jauh berjalan, Kancil bertemu dengan serombongan Kerbau.
“Hendak kemana kamu Cil?” Tanya kepala rombongan Kerbau, kepada Kancil.
“Tidak tahu, aku hanya ingin berkelana mengelilingi seluruh hutan ini. kalian sendiri mau kemana?” Kancil balik bertanya.
“Kami semua akan pergi menghadap sang raja. Seluruh hewan di hutan ini mendapat undangan. Apakah kamu tidak diundang sang raja Cil?”
“Tidak! Memanganya ada apa gerangan sang raja mengumpulkan seluruh warga hutan? Adakah hal sangat penting?” Kancil ingin tahu.
“Kami sendiri tidak tahu. Beberapa hari yang lalu, Merpati utusan raja menemui kami untuk menyampaikan berita ini. Sang raja menghendaki seluruh rakyatnya berkumpul pada purnama nanti.” Jelas kerbau.
“Aku tidak menerima undangan itu, mungkin karena aku selalu berpindah-pindah tempat jadi tidak bertemu dengan utusan raja.”
“Walaupun kamu tidak mendapatkan undangan, seharusnya kamu tetap datang kepertemuan itu, karena engkau juga warga di hutan ini. sebagai warga yang baik, tentulah kau harus mentaati peraturan disini.” Bujuk Kerbau mengajak Kancil.
Kancil sangatlah tahu apa yang akan terjadi kalau saja ia menghadiri acara tersebut. Harimau akan langsung memakannya, karena Kera pastilah sudah melaporkan tindakannya.
“Mungkin karena aku hanya hewan kecil yang sama sekali tidak berpengaruh di hutan ini, hingga tidak perlu mendapatkan undangan. Lebih baik kalian saja yang pergi, dan sampaikan salam hormatku kepada sang raja.” Kancil beralasan.
“Baiklah kalau begitu, kami akan menyampaikan salammu kepada sang raja.”
Selesai mengatakan itu, merekapun berpisah. Kancil terus menerus menebak apa yang akan dibicarakan dalam pertemuan itu. Pikirannya semakin dipenuhi oleh kalut dan takut. Semakin ia berjalan, semakin ketakutan itu menghantuinya hingga akhirnya Kancil menghentikan langkah karena malam telah datang.
Sementara itu, Kera telah sampai ketempat Harimau sang raja hutan. Malam itu Kera menceritakan semua kejadian yang baru saja dialaminya bersama Kancil. Tentu saja laporan Kera kepadanya membuat Harimau sangat geram kepada Kancil.
“Tapi kamu juga bodoh. Aku mengutusmu karena menganggapmu sebagai hewan yang paling cekatan diantara yang lain, namun ternyata kamu tidak sepintar yang aku duga.” Bentak Harimau.
Kemarahan Harimau tentu saja membuat wajah Kera pucat pasi. “maafkan hamba yang mulia. Tapi sungguh Kancil sangatlah cerdik dan saya akhirnya terbuai rayuannya..” Ucap Kera gemetar menahan takut.
“Bukan Kancil yang cerdik, melainkan kamu yang bodoh.” Kata Harimau lebih keras, yang tentu saja membuat Kera semakin ketakutan.
“Maafkan saya paduka. Tolong jangan hukum saya. Saya bersedia melakukan apapun demi maaf dari yang mulia.” Kera memohon.
Semula Harimau memandang Kera dengan tatapan penuh kemarahan, namun mendengar permintaan maaf dan cerita Kera yang nampaknya tidak dibuat-buat menjadikannya luluh juga.
“Baiklah, aku maafkan kamu.” Kata harimau.
Tatap mata Kera langsung berbinar mendengar jawaban Harimau rajanya. Mukanya kembali cerah dan senyum merekah lagi dibibirnya.
“Terimakasih yang mulia, terimaksih.” Ucap Kera berkali-kali. Begitu mendapatkan permintaan maaf dari Harimau, Kera hendak langsung meninggalkan tempat itu dengan tujuan menghindari kemarahan selanjutnya. Belum sempat ia berpamitan, Harimau meneruskan perkataanya.
“Sebagai ganti dari kekeliruan yang kau buat aku akan memberikan tugas baru untukmu.”
“Tugas apa gerangan yang akan yang mulia berikan kepada saya? Saya takut kalau tidak mampu mengembannya.” Ucap Kera sambil menundukkan wajah.
  “Besok malam aku mengundang seluruh warga hutan untuk berkumpul ditempat ini.” Jelas Harimau. “Aku ingin pergi mengembara beberapa waktu kedepan, dan dalam pertemuan itu akan diumumkan bahwa aku menyerahkan tampuk kepemimpinanku untuk sementara kepada Gajah.” Jelas Harimau.
Kera sempat terperanjat dengan perkataan Harimau. “Bukankah biarpun paduka berkelana, anda tetaplah raja kami?” Tanya Kera.
“Aku memang tetap raja kalian, namun aku juga tidak ingin ada kekosongan kekuasaan disini yang pada akhirnya memecah belah persatuan seluruh warga huta. Oleh karena itulah aku menunjuk Gajah untuk menggantikan posisiku sementara waktu.” Harimau menerangkan. “Diantara semua warga hutan, Gajahlah yang paling pantas menggantikanku, karena anakku belum cukup dewasa. Dia kekar, berwibawa, dan cukup disegani oleh hewan-hewan lainnya. Jadi kuharap aku tidak salah pilih.” Harimau melanjutkan.
“Lalu tugas apa yang hendak tuan berikan kepada saya?” Kera bertanya.
“Aku kau ikut bersamaku mengembara. Aku pasti akan memerlukan banyak tenagamu kelak.”
Kera langsung bersemangat mendengar ajakan Harimau. “Baiklah yang mulia, hamba akan menuruti semua perintah paduka dalam pengembaraan nantinya.” Jawab Kera tegas.
Setelah pembicaraan tersebut berakhir, keduanya berpisah unuk saling beristirahat.
Hari yang ditunggu akhirnya tiba. Menjelang malam sudah berdatangan, Kerbau, Kuda, Banteng, Jerapah, Kambing, Ayam, Gajah, dan semua penghuni hutan lainnya kecuali Kancil yang merasa bahwa dia tidak diundang.
Dibawah terangnya cahaya rembulan, mereka berkumpul membentuk setengah lingkaran dimana raja mereka, Harimau berada didepannya. Setelah semuanya berkumpul, Harimau mulai berbicar kepada seluruh rakyatnya.
“Malam ini aku sengaja mengundang kalian semua kesini karena aku ingin menyampaikan sebuah pengumuman yang penting.”
Seluruh undangan terlihat saling mengkerutkan dahinya tanda tengah menerka-nerka pengumuman penting apakah yang akan disampaikan raja mereka.
Belum terlalu lama mereka berpikir, Harimau melanjutkan kata-katanya.
“Sudah sekian lama aku terus-menurus hanya berada ditempat ini karena kewajibanku sebagai raja kalian. Dalam beberapa bulan kedepan, rasanya aku ingin kembali mengembara menikmati bagaimana rasanya mencari hewan buruan layaknya dulu ketika masih muda.......”
Harimau belum sempat menyelesaikan kata-katanya, Kuda menyela.
“Kalau tuan meninggalkan tempat ini siapa yang kan menjadi pemimpin tempat kami berkeluh kesah?”
“Benar yang mulia. Bukankah semua kebutuhan paduka sudah disediakan semuanya?” Kerbau menambahkan.
“Justru karena pertanyaan itulah aku mengumpulkan kalian semua disini. Setelah aku mempertimbangkan secara matang, aku menjatuhkan pilihanku kepada Gajah yang akan menggantikan posisiku sementara waktu.”
“Kenapa bukan putera paduka yang menggantikan posisi yang mulia?” Banteng menyela.
“Kalian semua tentu telah mengetahui kalau anakku masih terlalu muda untuk mengemban tugas ini. Oleh karena itulah aku memilih Gajah yang berbadan kekar dan kuat serta sudah berpengalaman dalam memimpin kelompoknya. Kau sanggup mengemban tugas ini Gajah?” Tanya Harima kepada Gajah.
“Saya merasa kurang mampu dalam mengemban tugas ini. Namun kalau yang mulia meminta saya akan berusaha semampu saya.”
“Gajah telah setuju dengan keputusanku, sekarang tinggal kalian. Bagaimana, setujukah kalian apabila Gajah menggantikanku untuk beberapa waktu?” Harimau ganti bertanya pada seluruh warganya.
“Setuju!” jawab mereka serempak.
“Kalau kalian semua telah setuju, maka pertemuan kita berakhir disini. Mulai besok, Gajah akan menjadi pemimpin baru kalian. Patuhilah ia seperti kalian mematuhi aku. Sekarang beristirahatlah kalian semua.”
“Terimakasih yang mulia.” Kata seluruh warga hutan bersamaan.
Pertemuan malam itupun berakhir dengan menghasilkan keputusan bahwa Gajah akan menggantikan posisi Harimau sebagai raja hutan untuk sementara waktu, karena Harimau akan kembali mengembara. Semuanya setuju, tidak ada satupun yang menolak keputusan raja hutan tersebut.
Pagi itu dengan diiringi tatap mata seluruh penghuni hutan, Harimau dan Kera pergi meninggalkan pusat kerajaan hutan untuk mengembara. Warga hutan-pun segera meninggalkan tempat pertemuan tersebut untuk pulang kerumahnya masing-masing setelah melepas kepergian raja mereka. Hanya Gajah saja yang tertinggal ditempat itu, karena sekarang ialah yang diserahi tanggung jawab untuk mengurusnya.
Harimau dan Kera terus berjalan menyusuri lebatnya rimba. Matahari belumlah tinggi, panas belum begitu menyengat. Riuhnya kicau burung juga masih terus menemani perjalanan sang raja hutan. Diantara ramainya kicauan burung, Harimau amat terpukau dengan suara Kutilang yang merdu.
“Kera, kemari!” perintahnya pada Kera yang berada dibelakangnya.
Kera langsung mendekati majikannya. “Ada apa yang mulia?”
“Kamu dengar kicauan burung Kutilang itu? Indah sekali. Bisakah kau menghadapkannya padaku?” Harimau bertanya sekaligus memerintah.
“Baiklah yang mulia, hamba akan mencobanya.” Kera kemudian memanjat pohon jati yang menjadi tempat berkicaunya sang  Kutilang untuk menyampaikan pesan dari Harimau. Setelah menerima pesan dari Kera, Kutilang segera turun untuk menemui Harimau.
“Ada apa gerangan tuanku memanggil hamba untuk menghadap? Adakah kesalahan yang hamba perbuat?” Kutilang bertanya.
“Tidak, sama sekali engkau tidak melakukan kesalahan.” Jawab Harimau.
“Lalu ada apakah paduka menginginkan hamba menghadap?” Kutilang melanjutan.
“Aku sangat terkesan dengan nyanyianmu tadi. Maukah kau mengajarkan padaku bagaimana caranya menyanyi sepertimu?” Pinta Harimau.
“Maaf yang mulia, saya dan anda mepunyai kelebihan masing-masing yang tidak dapat ditiru. Paduka mempunyai badan yang kekar dan gagah serta taring yang kuat. Dan saya diberikan kelebihan bisa terbang dan bernyanyi. Jadi tidak mungkin saya bisa mengajarkan bagaimana cara menyanyi saya kepada tuan.” Kutilang menjelaskan.
“Engkau pasti telah menyembunyika rahasia bagaimana cara bernyanyimu dariku. Tidak ada yag tidak bisa diajarkan didunia ini.” selidik Harimau.
“sama sekali tidak ada yang hamba rahasiakan dari tuan. Hanya saya dan kaum saya yang bisa bisa bernyanyi seperti ini, karena ini adalah anugerah yang berikan kepada kami. Demikian juga dengan suara auman tuan miliki, tidak ada satupun hewab dimuka bumi ni yang bisa menyamainya.” Kutilang memberikan pengertian. Namun Harimau tetap saja tidak mau mengerti dengan penjelasan yang diberikan Kutilang. Ia tetap memaksa Kutilang untuk memberitahukan rahasia kicauannya. Permintaan Harimau ini tentu saja membuatnya semakin bingung dan tidak tahu harus berkata apa karena memang ia tidak bisa memenuhinya. Kera hanya berdiri menonton perdebatan antara Harimau dan Kutilang. Ia sangatlah tahu bahwa kicauan Kutilang tidak bisa ditirukan oleh yang lain, namun ia juga tidak berani mengatakn  kepada Harimau karena ia takut kalau-kalau rajanya tersebut marah padanya.
Kali ini harimau benar-benar marah pada Kutilang. Ia tetap saja bersikukuh bahwa Kutilang tidak mau mengajarkan padanya bagaiman caranya menyanyi.
“Kutilang, kau tetap pada pendirianmu tidak mau mengajarkan bagaimana menyanyi sepertimu?” Bentak harimau.
“Baiklah tuan, saya akan bernyanyi didepan paduka, saya harap yang mulia bisa mempelajarinya.”
Kutilang kemudian bernyanyi sambil menari dengan indahnya didepan Harimau. Kicauan merdunya terdengar sangatlah indah di Telinga raja yang tengah berkelana itu. Ia sangat terpukau dengan suara riuh rendah yang sangat harmonis tersebut.
“Kera caoba kau perhatikan bagaimana caranya menyanyi, mungkin saja kau bisa mengetahui rahasia nyanyiannya.” Ucap Harimau sembari terus menyimak nyanyian sang Kutilang. Kicau merdu sang Kutilang akhirnya berhenti.
“Saya sudah memperlihatkan seluruh kemampuan saya dalam bernyanyi. Sekarang giliran paduka untuk mencobanya.” Kata Kutliang.
Harimau kemudian mengambil posisi untuk mulai bernyanyi. Ia menarik nafas dalam-dalam sebagai persiapan. Dengan bergaya layaknnya Kutilang, ia kemudian mengeluarkan nafas yang sudah terkumpul dalam dadanya. Ketika tersebut keluara dari mulutnya, tidak ada sama sekali suara merdu yang keluar. Malah layaknya bagaikan dengkuran yang menggelikan. Harimau malu sekali dengan keadaan yang dihadapinya. Ia mencobanya sekali lagi, namun tetap saja hasilnya tidak yang seperti yang diharapkan. Dengan menahan malu, ia mendekati Kutilang yang sedang bertengger didekatnya.
“Kutilang!” Bentak Harimau. “Kau pasti telah merahasiakan sesuatu dariku. Tidak mungkin tidak ada hal yang tidak bisa dipelajari di muka bumi.”
“Sama sekali tidak ada yang saya rahasiakan yang mulia.” Jelas Kuitlang menenangkan. “Kicauan yang saya miliki adalah sebuah karunia yang tidak bisa dipelajari siapapun kecuali para Kutilang.”
Harimau yang sudah terlanjur marah karena merasa dibohongi dan dipermalukan oleh Kutilang, menangkap Kutilang kemudian mencengkeramnya kuta-kuat.
“Sekarang kau sudah berada dalam cengkeramanku, apakah kau masih tetap tidak mau mengatakan rahasia menyanyimu?”
Kutilang yang memang telah mengatakan apa adanya kepada Harimau, segera meminta ampun karena ia sadar apa yang akan terjadi selanjutnya jika ia tidak segera memohon ampunan.
“Ampun yang mulia. Hamba telah mengatakan semuanya dengan jujur, tidak ada satupun yang hamba tutup-tutupi.
Kera yang dari tadi hanya menonton apa yang terjadi, berusaha memabantu Kutilang yang dalam bahaya.
“Benar yang mulia, kicauan Kutilang memang tidak bisa dimiliki oles siapapun kecuali dia. Tapi menurut hamba, auman yang mulia jauh lebih berwibawa daripada nyanyian Kutilang.” Kata Kara berusaha memberi penjelasan sekaligus menenangkan Harimau.
“Diam kamu Kera, kau tak perlu turut campur masalah ini.” Ucap Harimau marah.
“Bukan begitu maksud hamba paduka. Hamba hanya ingin menjaga wibawa yang mulia agar tidak tercemar karena melakukan perbuatan  yang memalukan seperti ini.”
“Memalukan katamu?” Tanya Harimau pada Kera. “Justru aku ingin menambah kewibawaanku kalau aku bisa menyanyi. Semua wargaku akan memujiku karena aku juga bisa menyanyi dengan indah, bukan hanya mengaum.”
Kera berjalan mendekati Harimau, “sekali lagi maafkan saya tuan. Bukannya saya hendak mencampuri urusan paduka, namun apa yang dikatakan kutilang benar adanya. Tidak mungkin yang mulia bisa menyanyi seperti dia, karena kemampuan menyanyi Kutilang hanya Kutilanglah yang bisa mempelajarinya.” Kera berusaha memberikan pengertian. Mendengar penjelasan Kera yang sepertinya malah menyudutkan dirinya, membuat Harimau semakin marah.
“Kau kuajak bersamaku untuk menemani dan membantuku, bukan melawan kehendakku. Sekarang lebih baik kau pergi dari hadapanku. Pergi atau kau akan kujadikan santapanku.”
Melihat kemarahan Harimau yang tampaknya sudah memuncak, Kera tidak bisa berbuat apa-apa. Iapun hanya bisa pasrah dan kemudian pergi meninggalkan tempat itu. Berbagai penjelasan dari Kera dan Kutilang hingga akhirnya Kera pergi meninggalkannya bukannya membuat Harimau menjadi sadar akan kesalahannya. Ia malah semakin menjadi dengan obsesinya untuk bisa menyanyi seperti Kutilang. Matanya menatap Kutilang yang tak berdaya dengan penuh selidik.
“Katakan apa yang menjadi rahasia menyanyimu, atau kau akan kujadikan santapan pembukaku?” Harimau mengancam.
Dengan penuh takut, Kutilang menjawab “saya sama sekali tidak mempunyai rahasia apapun dalam menyanyi. Karena semua kaum kami bisa melakukan hal itu seiring pertumbuhan usia mereka.
“Kau pasti berbohong, baiklah kalau kau tidak mau mengatkannya. Aku akan mencarinya sendiri.” Bersamaan dengan selesainya ucapan Harimau, ia kemudian meremukkan tulang-tulang Kutilang hingga burung kecil itu mati. Setelah Kutilang mati, dengan kukunya yng tajam Harimau kemudian mencabik-cabik tubuhnya dengan harapan bisa menemukan rahasia suara indah dari Kutilang. Harimau mengawasi dengan teliti setiap daging dan tulang milik Kutilang yang sudah hancur. Namun tetap saja ia tidak bisa menemukan apa-apa. Demikian pula ketika ia memeriksa bagian dalam leher dari Kutilang, juga tidak ditemukan keanehan disana. Mungkin dengan memkannya aku akan mendapatkan suara merdunya, demikian pikir Harimau. Tak menunggu lama, ia langsung memakan bangkai Kutilang yang sudah tak berbentuk itu. Mangsa kecil tersebut tentu saja langsung ia habiskan dalam sekali lahap. Selesai memakan Kutilang malang itu, Harimau mencoba bernyanyi kembali.
Sambil berjalan menyusuri hutan ia terus menerus berlatih menyanyi. Namun hasil yang didapatkan ternyata sama saja. Hanya auman membahana yang keluar dari sela taringnya. Melihat tingkah dari raja hutan tersebut tentu saja membuat heran para penghuni hutan yang kebetulan berpapasan dengannya. Harimau tidak peduli dengan tatap mata aneh dari warga hutan yang heran melihat tingkah yang memang tidak seperti biasanya.
Matahari sudah mulai redup ketika Harimau sampai ditepi sungai yang hampir kering airnya. Ia kemudian minum dan beristirahat ditempat itu. Setelah merasa cukup melepas lelah, Harimau meneruskan perjalanannya dengan menyebrangi sungai. Saat malam mulai menyapa, barulah Harimau mencari tempat untuk menginap malam ini. Ia memilih untuk beristirahat dibawah pohon Maoni.
Pagi hari, ketika Harimau terbangun dari tidurnya ia merakan betapa lapar perutnya. Hari belum begitu terang, namun ia memutuskan untuk pergi berburu mencari makanan. Matanya yang tajam menjadikan remang suasana hutan tidak menjadi penghalang. Hidungnya terus menerus mengendus bau mangsa yang bisa didapatinya. Lama ia berjalan mencari mangsa hingga belantara yang semula remang menjadi benderang.
Kini didepannya menghampar hutan padang rumput dan beberapa rumpun pohon bambu. Pasti akan banyak hewan yang mencari makan ditempat ini, katanya dalam hati. Angin bertiup cukup kencang waktu itu, hingga menjadikan pucuk-pucuk ilalang bergoyang. Harimau kemudian bersembunyi diantara tingginya ilalang untuk mengintai calon mangsanya.
Benar juga apa yang menjadi perkiraannya. Matanya menangkap seekor Kancil kecil yang tengah duduk dibawah rumpun bambu. Melihat Kancil, ia langsung teringat pada cerita Kera beberapa waktu lalu. Mengingat Kancil adalah hewan sangat cerdik maka Harimaupun amat berhati-hati dalam mendekatinya. Ia mengendap-ngendap menuju rumpun bambu dimana Kancil tengah duduk. Begitu sudah merasa cukup dekat, ia segera melompat dan kini tepat berada didepan Kancil. Kancil amat sangat kaget melihat siapa yang sekarang tengah berdiri dihadapannya. Harimau, sang raja hutan! Kancil tak habis pikir mengapa ia sampai tidak tahu dengan kedatangan Harimau.
“Sekarang kau tidak akan bisa pergi kema-mana lagi Kancil. Kau telah menipu Kera, dan sekarang aku akan menjadikanmu sebagai mangsaku.”
Kancil ketakutan setengah mati mendengar perkataan Harimau. Di pagi yang cerah dengan disertai semilirnya angin ini ternyata akan menjadi akhir hidupku, pikir Kancil. Harimau berjalan perlahan mendekati mangsanya, sementara Kancil juga mundur selangkah demi selangkah hingga akhirnya tubuhnya membentur rumpun bambu hingga ia tak bisa lagi kemana-mana. Merasa ajalnya sudah semakin dekat, Kancil duduk bersimpuh dibawah rumpun bambu. Bersamaan dengan itulah angin bertiup cukup kencang hingga menyebabkan beberapa pohon bambu saling bergesekan dan menimbulkan suara, krieet,,, krieet,,, krieet. Harimau terpukau mendengar suara yang ditimbulkan oleh pohon bambu tersebut, namun ia tidak tahu dari mana asalnya suara itu.
“Suara apa itu?” Tanya Harimau.
“Itu adalah suara seruling dewa.” Jawab Kancil sekenanya.
“Seruling dewa?”
“Iya paduka, dan keberadaan saya disini adalah untuk menjaganya.” Kata Kancil.
“Bisakah kau memainkannya untukku?” Pinta Harimau.
“Tentu saja! Namun saya harus menunggu angin agar memudahkan saya untuk meniupnya.”
“Baiklah!” Kata Harimau.
Harimau dan Kancil menunggu dengan sabar datangnya angin. Kancil berlagak diantara rumpun bambu seolah olah ia hendak meniup seruling. Akhirnya yang ditunggu-tunggu datang juga. Angin bertiup dengan kencangnya hingga puluhan pohon bambu saling beradu dan suara riuhpun terdengar. Mulut dan tangan Kancil juga bekerja layaknya tengah memperagakan sedang meniup seruling. Harimau nampak sangat girang dengan apa yang dilihatnya.
“Kancil, apakah kau bisa mengajariku bagaimana caranya meniup seruling dewa ini?” Tanya Harimau.
“Bisa saja, asalkan paduka mau menuruti semua perintah hamba.”
“Baiklah aku setuju, ajarkan padaku.”
Kancil kemudian menjelaskan bagaimana caranya bisa memainkan seruling dewa yang sedang ditungguinya. Pertama-tama Harimau harus menempelkan lidahnya kebatang bambu sembari meniupnya agar ia terbiasa. Tanpa banyak basa-basi Harimau menurut saja pada perkataan Kancil. Ia kemudian menempelkan lidahnya pada salah satu batang bambu kemudian meniupnya. Lama ia meniup, namun suara yang diinginkan tidak juga keluar.
“Kau bohong padaku Cil?” Bentak Harimau.
“Mana mungkin saya berani berbohong pada paduka yang mulia.” Sahut Kancil. “Yang mulia harus menunggu bantuan angin, karena tuan belum pernah meniup seruling itu sebelumnya. Sekarang cobalah lagi.” Perintah Kancil.
Harimau menempelkan lidahnya disalah satu batang bambu. Mulutnya tak berhenti meniup layaknya tengah memainkan seruling. Akhirnya angin yang ditunggupun datang. Namun kali ini angin yang bertiup tidak begitu kencang, hingga suara yang ditimbulkannyapun hanya suara yang kecil. Harimau girang alang kepalang menyadari dirinya bisa memainkan seruling dewa tersebut.
“Aku bisa Cil, aku berhasil.” Harimau kegirangan.
“Ulangilah lagi paduka, agar anda terbiasa dan bisa memainkan seruling itu dimana saja.” Ucap Kancil.
“Benarkah aku bisa memainkannya dimana saja? Baiklah kalau begitu.”
Harimau kembali menmpelkan lidahnya pada batang bambu. Sementara kancil berjalan mengendap-endap untul meloloskan diri.
“Mau kemana kau Cil?” Tanya Harimau.
“Saya akan pergi sebentar untuk mencari minum disungai. Yang mulia pasti akan kehausan saat meniup seruling itu.”
“Baiklah kalau begitu, cepatlah kembali agar aku bisa belajar lebih banyak.”
Kancil segera melangkahkan kakinya untuk meninggalkan rumpun bambu tersebut dan setelah merasa cukup jauh iapun berlari secepatnya. Harimau masih terus menempelkan lidahnya di batang bambu sambil terus meniupnya. Karena angin yang berhembus waktu itu belum terlalu kencang maka suara yang ditimbulkan akibat gesekan batang bambupun tidak seberapa. Namun Harimau tidak menyerah begitu saja, ia terus berusaha untuk meniup seruling dewa tersebut. Ia pun beristirahat sejenak untuk mengembalikan tenaganya sambil menunggu Kancil yang tengah mencari air minum. Akhirnya angin yang ditunggu-tunggu datang juga. Dari kejauhan ia melihat pucuk ilalang yang nampak bergoyang kencang karena tiupan angin. Harimau tidak melepaskan kesempatan ini begitu saja, ia segera mendekati batang bambu dan menempelkan lidahnya disana. Begitu angin kencang tersebut sampai dirumpun bambu itu, tentu saja membuat seluruh bantang-batang bambu bergerak tak beraturan dan menimbulkan suara yang cukup riuh. Harimau semakin bersemangat karena keberhasilannya memainkan seruling dewa itu. Ia menjulurkan lidahnya semakin panjang keluar dan karena tiupan angin juga semakin kencang maka batang bambu yang bergerakpun bukan hanya dibagian atasnya saja. Karena lidahnya yang menjulur terlalu panjang dan batang bambu juga bergerak seluruhnya, maka akhirnya lidahnya itupun terjepit oleh batang bambu yang saling bergesekan. Sakit alang kepalang dirasakan Harimau ketika lidahnya terjepit diantara pohon bambu dan tidak bisa segera ia lepaskan. Gerak batang bambuyang tak beraturan tersebut membuatnya semakin kesulitan melepaskan lidahnya. Tapi kejadian tersebut tidak berlangsung lama, karena angin yang berhembus semakin pelan. Pada akhirnya ia bisa menarik paksa lidahnya. Sakit, perih, dan berbagai perasaan yang dirasakan Harimau saat ini. Ia semakin jengkel karena juga telah ditipu oleh Kancil dan hampir saja ia mati karenanya.
“Awas kau Cil, kau pasti akan menerima akibatnya.” Demikian kata Harimau sambil berjalan menahan sakit meninggalkan tempat itu.

baca selanjutnya ..

kancil dan kera

Malam itu Si Kancil berlari dengan cepatnya menembus gelap dan rimbunya pepohonan. Ia takut, kalau pak tani mengetahui pelariannya dan segera mengejar bersama anjing yang baru saja dibohonginya. Ia menembus pekatnya belantara malam serta tak lagi mempedulikan jalan yang dilaluinya. Setelah cukup lama berlari, Si Kancil merasakan lelah yang tak tertahankan dan memaksanya harus berhenti. Si Kancil kemudian menyandarkan badannya pada sebatang pohon untuk beristirahat. Karena kelelahan itulah, Si Kancil sampai tertidur dengan pulasnya dibawah pohon rindang tempatnya bersandar. Ia terbangun tatkala matahari mulai menyengat kulit tubuhnya. Ketika terbangun kepalanya menengok kekiri dan kekanan menandakan ia masih khawatir kalau-kalau pak tani dan anjingnya mengejar. Setelah memeriksa keadan dan memastikan bahwa tidak ada yang mengejarnya ia perlahan-lahan melangkah pergi, masuk kedalam hutan yang lebih lebat.
Tak terasa sudah hampir setengah hari Si Kancil berjalan dan berlari tanpa sedikitpun makan dan minum. Perutnya terus berbunyi, kerongkongannya terasa kering, dan masih ditambah lagi pegal yang menyelimuti seluruh badannya. Sayup-sayup ia mendengar gemericik suara air. Ia pun terus berjalan untuk mencari tahu sumber suara tersebut. Ternyata tidak jauh dari tempat tersebut ada sebuah sungan yang masih sangat jernih airnya. Karena haus yang begitu mencekik, Si Kancil berlari cepat menuju sungai dan langsung minum sepuas-puasnya. Satu masalah telah selesai. Sekarang tinggal bagaimana caranya ia bisa mendapatkan makanan untuk mengisi perutnya yang dari tadi keroncongan. Ia menduga, tidak jauh dari sungai pasti ada pohon buah yang lezat hingga ia pun berjalan mengikuti arus aliran sungai tersebut. Dan ternyata benar saja, tidak begitu lama ia berjalan, dilihatnya ada buah pisang yang sudah masak. Dengan girang, ia berlari mendekati pohon pisang tersebut. Karena ia tidak bisa memanjat, maka ia berinisiatif untuk menggoyang-goyangkan pohon pisang itu dengan harapan ada beberapa biji pisang yang jatuh. Berkali-kali ia mencoba menggoyangkan pohon pisang, namun tidak ada satu bijipun yang jatuh. Lama kelamaan Si Kancil menyerah juga. Ia hanya bisa duduk sambil memandang buah pisang yang sudah berwarna kuning dengan menahan air liurnya.
Sembari duduk dan memandang buah pisang, ia terus memutar otak untuk menemukan cara bagaimana bisa memakan buah tersebut. Beberapa saat setelah ia duduk dan merenung, datanglah seekor Kera untuk minum disungai. Masalah terselesaikan. Kera adalah hewan yang pintar memanjat pohon. Dalam hatinya Kancil berujar, aku akan meminta bantuannya untuk memetikkan buah pisang tersebut. Si Kancil kemudian mendekati sang kera yang tengah asyik minum air sungai. Karena lapar yang begitu hebatnya, tanpa banyak basa-basi Kancil langsung mengutarakan niatnya. Kera adalah binatang yang sangat menyukai pisang. Begitu mendengar bahwa disekitar tempat itu ada buah pisang yang sudah masak ia langsung merasa lapar.
“dimana pohon pisangnya” Tanya sang Kera kepada Kancil.
“tunggu dulu tuan Kera. Saya akan memberitahukan dimana letak buah pisang itu asalkan tuan mau memenuhi persyaratan yang saya ajukan” kata Kancil
“baik katakan saja apa sayaratnya”
“saya ingin tuan yang memanjat pohon, kemudian pisang-pisang itu kita bagi dua. Bagaimana tuan? Anda setuju?”
Sang Kera diam sejenak sambil menggaruk-garuk kepalanya. “baiklah, aku setuju denganmu. Tapi bagaimana caranya untuk membagi buah pisang itu?”
“gampang saja tuan Kera.” Jawab Kancil “setiap anda memakan satu buah pisang diatas pohon, anda juga harus melemparkan kepada saya satu. Demikian seterusnya. Anda setuju?” Kancil menawarkan
“baiklah, aku setuju. Dimana pohon pisangnya?”
“mari ikuti saya.”
Kancil berjalan didepan dan sang Kera mengikutinya. Tak beberapa lama mereka berjalan, sampailah keduanya pada tempat tujuan. Tepat didepan mereka terdapat rumpun pohon pisang dimana dari salah satu pohonnya sudah ada yang berbuah masak. Tanpa menunggu komando dari Kancil, Kera langsung memanjat. Dalam hitungan detik ia sudah berada diatas. Ia pun memetik dua buah pisang dimana satu untuknya dan satu untuk si Kancil. Mereka berdua langsung memakan buah pisang tersebut dengan lahapnya. Namun dalam hal memakan pisang, Keralah juaranya. Buah yang berada pada tangan si Kancil belum habis setengah, buah pisang milik sang Kera sudah habis duluan. Iapun kemudian melemparkan kulit pisang yang baru saja habis dimakannya kebawah dekat dengan kancil. Tiba-tiba muncullah akal buruk dalam pikirannya. Ya, dia hanya akan memberikan kulit pisang saja kepada Kancil. Bukankah Kancil adalah hewan pemakan sayur dan buah? Pasti kulit pisangpun dia juga doyan. Sang kera kemudian memetik buah pisang selanjutnya. Namun kali ini ia hanya memetik satu buah saja untuk dirinya sendiri. Karena kecepatan makannya terhadap pisang, maka buah pisang yang kedua ini habis berbarengan dengan buah pertama milik si Kancil.
Melihat pisang milik Si Kancil juga sudah habis, maka ia segera memetik pisang kembali, tapi hanya satu untuk dirinya sendiri. Dan ia kemudian melemparkan kulit pisang yang sudah habis dimakannya kearah si Kancil. Kancilpun dengan senang hati menerima jatahnya, tapi ketika ia mendekat pada pisang yang baru saja dilemparkan oleh Kera ia kaget alang kepalang. Ternyata yang diterimanya barusan hanyalah kulitnya saja, sementara isinya sudah tak ada lagi. Kancil berteriak menyeru kepada Kera. “Tuan mengapa buah yang anda lemparkan hanya kulitnya saja?” Kera yang berada diatas pohon berpura-pura tidak mendengar secara jelas teriakaan Kancil, karena waktu itu kebetulan angin sedang berhembus kencang. “apa? Suaramu tidak begitu jelas. Ulangi lagi pertanyaanmu, lebih keras!” Kancil mengulang lagi perkataannya dengan suara yang lebih lantang. Demikian juga Kera, iapun kembali hanya mengulang jawabannya dengan suara yang lebih keras pula.
Akhirnya Kancil tidak bisa berbuat banyak dengan apa yang sedang terjadi. Ia terus-menerus menggerutu karena ternyata hanya bisa menikmati kulit pisang, padahal ia-lah yang merasa paling berjasa karena menemukan pohon pisang itu. Kesal, marah dan dendam bercampur menjadi satu dalam hati Kancil. Hatinya bertambah kesal karena Kera tetap saja tidak peduli. Diatas dahan sang Kera terus memakan buah pisang dan hanya melemparkan kulitnya saja pada si Kancil demikian sampai setandan pisang diatas pohon habis diamakan sang Kera.
Kancil berusaha tetap memasang muka tenang dan sabar ketika sang Kera turun dari pohon dan menghampirinya. “kenapa kamu tidak meminta buahnya kepadaku? Apakah kamu lebih menyukai kulit pisang daripada isinya?” Tanya Kera. Kancil yang sebenarnya sangat kesal karena kelakuan Kera, menjawabnya dengan penuh diplomatis. “ya benar. Saya adalah hewan yang jauh lebih suka kepada kulit pisang daripada buahnya. Dan saya kira anda adalah hewan yang sangat menyukai pisang daripada kulitnya. Karena itulah, saya merasa pembagian buah pisang antara saya dan anda barusan sangatlah adil.” Selesai perbincangan itu, keduanya sepakat untuk berpisah. Kancil berjalan mengikuti arah aliran sungai sementara Kera kearah sebaliknya.
Beberapa hari kemudian, secara kebetulan Kancil dan Kera bertemu lagi. Mereka berdua saling bertegur sapa dan menanyakan hendak kemana tujuannya. Dengan pongahnya Kera mengatakan bahwa ia baru saja menghadap Harimau sang raja hutan serta sedang mengemban tugas rahasia demi ketentraman seluruh penghuni rimba. Kancil sebagai hewan yang terkenal cerdik tidak kurang akal untuk mencari tahu tugas apa yang sebenarnya tengah diemban oleh Kera. “tuan, tugas apa gerangan yang sedang tuan emban? Kalau boleh ijinkan saya untuk menyertai tuan mengemban tugas mulia dari sang raja.” Tanya Kancil merendahkan diri.
“aku rasa kau tidak akan mampu membantuku mengemban tugas ini. Karena tugas ini terlalu rumit dan berat.” Jawab Kera.
Kancil tidak menyerah begitu saja. “saya menyertai tuan bukan untuk membantu tuan dalam hal tugas, tapi saya hanya ingin menjadi pembatu tuan agar tuan tidak kekurangan suatu apapun.”
Kera mulai menimbang apa yang diusulkan oleh kancil. Ya, paling tidak jika ada yang menyertainya maka ia tidak harus mencari makan ataupun minum sendiri. “kalau begitu baiklah, kau boleh mengikutiku. Tapi kau harus ingat bahwa, kau hanya membantukuku dalam mencari makanan dan minuman, bukan untuk menemukan pusaka yang diperintahkan sang raja.”
“pusaka?” sahut Kancil. “Pusaka apa yang tuan cari?”
Kera menyadari kesalahannya. Ia sudah terlanjur mengatakan tentang tugas yang diembannya dari sang raja. “baiklah, karena aku sudah terlanjur mengatakannya maka aku akan menceritakan padamu.” Kera mengajak Kancil berjalan menyusuri hutan belantara. Ia kemudian menceritakan bahwa Harimau sang raja hutan baru saja menerima wangsit melalui mimpinya. Dalam bisikan tersebut dikatakan bahwa, ada pusaka milik para dewa yang tertinggal didalam hutan. Pusaka tersebut berbentuk sebuah kenong wasiat yang apabila dipukul akan menimbulkan suara gemuruh yang hebat hingga seluruh hutan akan mendengarnya. Sang raja juga mengatakan, bahwa siapapun yang mempunyai pusaka tersebut akan selalu dilindungi oleh para dewa. Raja menginginkan pusaka itu bukan hanya untuk mendapatkan berkah dari para dewa, namun juga, jika pusaka berhasil didapatkan maka ia tidak perlu susah-susah dalam mengumpulkan warganya. Karena suara gemuruh yang ditimbulkan oleh kenong dewa juga akan digunakan sebagai tanda bahwa raja menghendaki semua rakyatnya berkumpul. Demikian kera menjelaskan perintah yang sedang diembannya.
Sembari bercerita, keduanya terus berjalan melintasi belantara luas. Hari mulai sore. Kera sebagai pemimpin, memutuskan untuk beristirahat dan meneruskannya keesokan hari. Kancil sadar bahwa dalam perjalanan ini ia adalah pembantu kera. Maka dengan cekatan, ia menyiapkan tempat istirahat untuk majikan barunya. Setelah tempat istirahat untuk sang majikan selesai, maka si Kancil segera pergi untuk mencari tempat makanan dan minuman. Ternyata, tak jauh dari tempat mereka beristirahat ada sebuah danau kecil dengan air yang jernih serta dikelilingi oleh pohon berbagai macam buah yang mulai ranum. Kancil memanfaatkan situasi ini untuk berkeliling melihat pemandangan sekitar danau.
Kancil berjalan menyisir setiap sudut danau hingga sampailah disebatang pohon delima yang tengah berbuah lebat. Karena merasa sudah cukup jauh berjalan. Ia memutuskan berhenti sejenak untuk beristirahat. Kancil menyandarkan tubuhnya pada batang mungil pohon delima. Karena terlalu lelah berjalan, akhirnya Kancil tertidur ditempat itu. Tapi belum lama ia terlelap, telinganya yang tajam menangkap suara berdengung yang membisingkan. Kancil memasang mata dan telinga untuk mencari sumber suara. Ternyata suara tersbut berasal dari ribuan tawon Gung yang hendak pulang kerumahnya di atas pohon nangka yang tak jauh dari tempatnya bersandar. Sekawanan lebah itu hendak pulang kesarang mereka setelah seharian mencari makan. Mata si Kancil tak bisa lepas mengikuti kawanan lebah sampai dirumahnya yang berbentuk bulat dan menggantung. Alangkah besarnya kuasa pencipta alam ini, pikirnya.
Belum habis ketakjuban si Kancil terhadap sang pencipta, dari kejauhan ia mendengar suara sang Kera memanggilnya. Mendengar panggilan dari sang Kera, Kancil buru-buru menjawab dan menghampirinya. “dari mana saja kamu? Kenapa lama sekali?” Tanya Kera marah-marah. Kancil yang sadar bahwa posisinya sekarang hanya sebagai pembantu Kera berusaha menenangkan situasi. “maaf tuan, bukannya saya melupakan apa yang menjadi kewajiban saya. Saya tidak buru pulang, karena saya ingin berkeliling sekitar danau untuk mencari makanan yang terbaik untuk tuan.” Kata Kancil menjelaskan. Kerapun akhirnya mengerti bahwa kancil berlama-lama didanau hanya untuk mencarikan mana yang terbaik untuknya.
“lalu apa yang kau dapatkan?” Tanya Kera dengan suara yang lebih rendah.
 “banyak sekali tuan. Namun sesuai apa yang saya ucapkan, saya mencari yang terbaik untuk tuan. Yaitu pisang!”
“pisang?” Kera balik bertanya penuh girang.
“iya tuan, disebelah sana.” Kancil menunjuk arah bertolak belakang dari tempatnya tertidur tadi. Mereka berdua saling beriringan menuju rumpun pohon pisang yang ditunjukan kancil. Kera langsung memanjat pohon pisang tersebut sesampainya disana. Kembali, kejadian beberapa hari yang lalu harus terulang. Kera menikmati pisang tersebut untuk dirinya sendiri dan memberikan kulitnya kepada si Kancil. Kejadian ini tentu saja membuat sakit hati Kancil kepada Kera semakin menjadi. Dengan keadaanya saat ini, yaitu selalu bersama dengan Kera maka akan semakin besar kesempatannya untuk membalas sakit hatinya.
Matahari sudah hilang digantikan gelapnya malam saat Kancil dan Kera melangkah menuju tempat peristirahatan mereka. Kera langsung terlelap tidur diatas tumpukan daun kering yang disiapkan Kancil tadi siang. Sementara Kancil tetap saja tak bisa memejamkan mata. Ia terus berpikir bagaimana bisa melampiaskan sakit hatinya terhadap Kera. Terus ia berpikir dan akhirnya ide itu datang juga.
Kancil yang baru saja mendapatkan ide cemerlang, langsung meninggalkan tempat peristirahatan. Ia berjalan kearah danau menuju pohon delima yang tengah berbuah lebat. Disinilah ia akan melakukan pembalasan terhadap Kera. Waktu berlalu begitu lambat rasa si Kancil. Ketika rasa bosan hampir menghinggapi, jauh dari dalam lebatnya hutan terdengar kokok ayam jantan membahana. Matanya yang semula dihinggapi oleh kantuk serta merta kembali bersinar cerah. Semua kantuknya hilang bersamaan lengking suara ayam jantan menandakan pagi. Ia bergegas duduk bersila dibawah pohon delima.
Langit yang semula kelam telah berubah warna menjadi merah membara. Rimba belantara yang semula gulita perlahan-lahan menjadi terang dan hangat hingga membangunkan Kera dari lelap tidurnya. Perlahan ia duduk diatas tumpukan daun kering yang semalam menjadi alas tidurnya. Ada yang aneh, ia tidak melihat si Kancil disekitar situ. Lalu kemana dia? Mungkinkah sedang mencari makanan untuknya? Ya, pasti Kancil tengah mencari makanan. Namun setalah lama menunggu, ternyata Kancil tidak kelihatan batang hidungnya. Apakah Kancil telah pergi meninggalkannya? Tidak, tidak mungkin Kancil pergi. Ia tentu saja ingin turut berjasa bagi sang raja. Tapi kemana ia pergi? Kera tak mau berlama-lama dengan pertanyaan yang terus berkecamuk dalam hatinya. Ia memutuskan untuk pergi mencari Kancil sekaligus berusaha menemukan makanan. Tak beberapa lama berjalan, ia akhirnya melihat sang Kancilyang tengah duduk  manis dirimbunya rerumputan hutan tak jauh dari pohon Delima. Namun apa yang sedang dilakukan Kancil, Tanya Kera dalam hati. Ia berjalan mendekati si Kancil yang sedang duduk bersila layaknya pertapa.
“apa yang kamu lakukan?” Tanya Kera membentak. Kancil terperanjat kaget. Matanya membelalak dan kakinya mundur beberapa langkah. “apa yang kamu lakukan?” Tanya Kera sekali lagi. Cukup lama Kancil membelalakkan mata tanpa bisa bersuara. “kenapa kamu?” Tanya Kera sekali lagi. Barulah Kancil seolah-olah mendapatkan kembali separuh nyawanya. Ia buru-buru menjawab pertanyaan Kera “maafkan saya, tidak segera menjawab pertanyaan tuan. Saya tadi merasakan bahwa sukma saya sedang berada dialam lain. Alam para dewa.”
Kera terheran-heran mendengar jawaban Kancil. “alam para dewa? Apa maksudmu?” Kancil berjalan mendekati Kera “bukankah tuan sedang mencari pusaka kenong para dewa dihutan ini? Waktu mencari makanan kemarin sore, saya mendapat bisikan dari peri penunggu danau ini. Ia menyuruh saya agar bertapa di tempat ini. Oleh karena itu, semalam saya meninggalkan tuan ketika sudah terlelap.”
“lalu apa yang kau dapatkan?” lanjut Kera. Kancil tidak langsung menjawab pertanyaan majikannya. Ia malah nampak kebingungan. “kenapa kau malah bingung seperti itu? Kau membohongiku dengan mengarang cerita tentang peri penunggu danau?” Kera bertanya.
“bukan, bukan begitu tuan. Sebenarnya saya tadi sudah mendapat petunjuk dimana kenong pusaka itu. Tapi………”
“tapi apa?” Desak Kera.
“saya tidak berani mengatakannya.” Mendengar jawaban Kancil yang berbelit-belit tersebut, tentu saja membuat Kera naik pitam. Ia kemudian mencengkeram leher Kancil kuat-kuat. “katakan atau kupatahkan lehermu?”
“baik tuan.”ucap kancil setengah ketakutan. Kera melepaskan cekikannya. “sekarang ceritakan.” Ucapnya.
Kancil menarik nafas panjang sebelum mulai bercerita.
“saya memang telah mengetahui letak dan kelebihan dari pusaka tersebut berkat petunjuk para dewa. Siapapun yang memiliki pusaka kenong wasiat itu akan menjadi penguasa seluruh belantara menjadi wakil para dewa yang tak terbantahkan.”
“aku sudah tahu tentang kelebihan kenong wasiat itu, semuanya! Sang raja, telah memberitahuku.” Kata Kera menyela cerita Kancil.
“kalau tuan sudah tahu dengan semua kelebihan itu, mengapa tuan tidak ingin memilikinya? Jika memukulnya, tuan bisa memanggil para dewa dan memohon bantuannya. Dengan senang hati, para dewa tersebut akan membantu tuan.” Kancil merayu!
Kera, mulai termakan rayuan Kancil. Raut wajahnya menandakan ia mulai berpikir untuk memiliki pusaka tersebut. benar juga apa yang dikatakan Kancil, dengan Kenong para dewa ditangannya. Bahkan sang Harimau sang raja hutanpun bukan lawan yang sepadan.
“tuan, semua hewan penghuni hutan ini akan tunduk pada anda termasuk sang raja. Tidakkah anda ingin melihat keturunan anda hidup mulia?” Tambah Kancil meyakinkan.
Keraguan sekaligus keinginan Kera mengenai Kenong pusaka tersebut semakin menjadi.
“benar juga apa yang kau katakan, tapi mengapa kau tidak ingin memiliki pusaka tersebut sementara kau telah mengetahui dimana pusaka tersebut berada?” Tanya Kera.
“pada mulanya saya memang ingin memiliki pusaka tersebut, namun ternyata Kenong dewa itu terletak disuatu tempat yang tidak bisa saya ambil. Dan tuanlah satu-satunya harapan saya. Kalau tuan bisa mendapatkannya, saya hanya berharap semoga saja tuan mau menerima saya dan seluruh keturunan saya nantinya menjadi abdi tuan yang paling setia.”
Jawaban yang sempurna dari Kancil membuat Kera yakin bahwa apa yang dikatakan pembantunya tersebut bukanlah sebuah kebohongan.
“memang dimana letak pusaka itu hingga kau tak bisa mengambilnya?” Tanya Kera penuh ingin tahu.
“ikutlah dengan saya tuan.”
Kancil membawa Kera mendekati pohon delima kemudian ia berhenti.
“pasang telinga tuan baik-baik dan dengarkanlah.” Perintah Kancil.
Kera yang sudah sangat penasaran dengan keberadaan Kenong pusaka menurut saja. Sayup-sayup ia mulai mendengar suara gemuruh yang berasal dari tempat diatasnya.
“tuan mendengarnya? Suara gemuruh itu? Itu adalah efek yang ditimbulkan cari Kenong Dewa tersebut. dan jika ia dipukul, maka seluruh hutan ini akan mendengarnya sebagai pertanda bahwa yang memukulnya adalah raja baru mereka.” Kancil menjelaskan.
“lalu?” Kera mendesak.
Kancil melanjutkan penjelasannya.
“pusaka Kenong Dewa tersebut terletak menggantung dipuduk pohon nangka disamping pohon delima itu. Anda adalah bintang yang paling pandai memanjat, jadi letak pusakan itu bukan menjadi masalah dengan anda.”
Mengetahui keberadaan Kenong Dewa tersebut, Kera bergegas hendak memanjat pohon Nangka yang ditunjukkan Kancil, Kancil segera mencegahnya.
“tunggu tuan! Penjelasan saya belum berakhir.”
“penjelasan apa lagi?” Kera naik pitam.
“tuan harus memukul Kenong Dewa dengan tengan tuan sendiri. Tuan juga harus memejamkan mata serta muka tuan juga harus berada tepat didepannya. Karena penunggu Kenong Dewa itu selain mengenal muka anda juga harus hafal dengan aroma tubuh tuan.” Jelas Kancil selanjutnya.
“hanya itu persyaratannya?”
“benar tuan. Namun, saya tidak berani untuk menunggu  disini. Suara Kenong Dewa itu akan memecahkan kendang telinga saya. Tapi tuan tidak usah khawatir dengan itu. Sebab, menurut wasiat yang saya terima siapapun yang memukul pusaka itu akan mendengarkan suara layaknya alunan musik surgawi.”
“baiklah kalau begitu. Tunggu aku ditempat rumpun pisang yang kemarin. Setelah berhasil mengambilnya.” Kera memerintah.
“duli tuanku.” Kancil segera meninggalkan tempat itu, dan Kera juga langsung memanjat pohon Nangka tempat bersemayamnya Kenong Dewa incaran Harimau sang raja hutan. Kancil berlari sekuat tenaga, karena ia tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.
Kera memanjat pohon Nangka dengan cepatnya. Matanya tajam mengawasi puncak pohon dan telinganya semakin jelas mendengar dengung suara kenong Dewa. Akhirnya, mata  sang Kera menangkap benda berwarna coklat berbentuk bulat layaknya Kenong. Semangatnya memuncat, hingga ia mempercepat langkahnya menuju puncak pohon dimana pusaka itu berada. Saat Kenong Dewa itu sudah tepat berada didepan mata, kemudian ia menciumnya dan mulai memejamkan mata. Semua petunjuk dari Kancil telah dijalankannya, hanya kurang satu lagi. Yaitu memukulnya sekuat tenaga. Dengan hati berdebar-debar dan penuh harap, ia kumpulkan segenap tenaganya kemudian memukul kenong tersebut kuat-kuat. Bersamaan dengan tangannya menembus Kenong Dewa yang ternyata adalah sarang tawon Gung tersebut maka ribuan tawon yang merasa terusik keluar dari sarangnya untuk mencari tahu.
Kera masih memejamkan mata hingga ia tidak tahu apa yang sebenarnya tengah terjadi. Ia baru sadar, ketika seluruh tubuhnya mulai merasakan sakit karena sengatan ribuan lebah. Mengetahui bahaya yang mengancam, sang Kera langsung beranjak turun dari pohon. Namun lebah-lebah yang tak terhitung banyaknya tidak begitu saja membiarkan Kera lolos begitu saja. Mereka terus mengejar sang Kera disertai sengatan-sengatan disekujur tubuhnya hingga bengkak disana-sini.
Kera terus berlari dengan diikuti lebah-lebah yang mengejar sambil tak hentinya mengumpat si Kancil. Ribuan lebah itu baru berhenti mengejarnya setelah Kera bersembunyi dengan jalan membenamkan dirinya di danau.

baca selanjutnya ..

gajah dan semut


Sudah beberapa hari ini Harimau pergi meninggalkan pusat kerajaan hutan untuk mengembara. Sama sekali tidak ada kabar tentang bagaimana keadaanya dan dimana ia sekarang. Seluruh tugas terdahulunya dibebankan kepada Gajah yang kini menjadi penguasa sementara di hutan. Lama hanya berdiam diri disekitar daerah kekuasaan barnya itu tentu saja membuat Gajah bosan. Pagi itu ia memutuskan untuk pergi berjalan-jalan menikmati indahnya mentari. Kedudukan baru yang dimiliki oleh Gajah saat ini menjadikannya agak congkak. Ia berjalan dengan sombongnya karena merasa tidak akan ada yang berani terhadapnya. Badannya yang besar dengan belalai kuat dengan disertai gading tajam sudah cukup membuat dirinya disegani oleh pemghuni hutan, apalagi sekarang dia adalah raja maka semua warga hutan harus tunduk dan  menghormatinya.
Mentari belumlah tinggi saat Gajah melangkahkan kaki meninggalkan tempat tinggalnya. Ia berjalan dengan tidak menghiraukana apapun disekitarnya. Ratusan pohon-pohon kecil terinjak hingga rusak dan mati. Demikian juga dengan yang terjadi pada hewan-hewan kecil seperti rayap dan semut, tidak sedikit dari mereka yang mati akibat injakkan kaki sang raja baru. Gajah sama sekali tidak menyadari bahwa langkah kakinya telah menyakiti banyak pihak. Sama sekali ia tidak mempedulikan dengan kerusakan yang ditimbulkannya malah terlihat sangat menikmatinya. Semakin jauh ia melangkah, semakin langkah kakinya membuat kerusakan hutan dan ratusan hewan-kecil yang mati.
Akhirnya sampailah ia di sebuah telaga yang airnya jernih, dan segera ia berendam dan bermain disana. Dengan belalainya ia menyedot air sebanyak-banyaknya untuk kemudian demprotkan keatas. Tubuh raksasanya bergelimpangan kekiri dan kekanan hingga mengakibatkan telaga yang semula jernih menjadi keruh. Puluhan ikan mas yang semula berenang tenang dan ceria kini menjadi pusing karena keruhnya telaga.
Puas bermain air, Gajah meninggalkan telaga. Sama sekali tidak ada rasa bersalah dalam dirinya karena telah menyebabkan beberapa ikan menjadi pingsan karenanya. Ia berjalan dengan congkak untuk kembali kerumahnya. Suaranya melengking tajam mengiringi langkah kakinya. Gajah terus berjalan seenaknya tanpa memperhatikan apa yang dilaluinya. Puluhan semut yang tidak bersalah kembali terinjak dan tidak sedikit dari mereka yang mati. Gajah kemudian beristirahat sesampainya ia dirumah barunya.
Ratusan Semut yang merasa terganggu dengan tingkah laku Gajah tersebut, kemudian datang menghadap raja mereka. Kepada raja Semut, mereka kemudian menceritakan semua kejadian yang baru saja mereka alami pagi ini. sang rajapun mendengarkannya dengan seksama dan penuh perhatian.
“Kalau begitu, aku akan menghadap kepada Gajah untuk menyampaikan keluhan kalian sore ini.” Demikian ucap pemimpin Semut ini pada rakyatnya.
“Terimakasih banyak yang mulia.”
Serombongan Semut tersebut kemudian segera pulang setelah puas dengan jawaban dan janji raja mereka.
Tidak menunggu waktu lama, raja Semut inipun segera pergi meninggalkan sarangnya untuk menemui sang Gajah dengan harapan ia bisa sampai di kediaman Gajah pada sore harinya. Benar saja, pimpinan Semut ini. Raja Semut inipun langsung mengatakan kepada Merpati sang hulubalang raja, bahwa ia ingin bertemu dengan Gajah karena ada hal penting yang hendak ia sampaikan.
“Baiklah, tunggu disini. Aku akan menemui sang raja.”
Merpatipun terbang meninggalkan Semut guna menemui sang Gajah. Terlihat sang raja baru tengah bersantai menikmati suasana senja di tempat barunya. Merpatipun turun dan berdiri di hapadan rajanya.
“Ada apa engkau menghadapku?”
“Raja semut ingin menghadap yang mulia, dan sekarang ini ia telah berada di gerbang istana yang mulia.” Jelas Merpati.
“Semut? Untuk apa ia menghadapku? Sepertinya aku tidak pernah punya kepentingan dengannya.” Gajah terheran-heran.
“Bagaimana yang mulia? Apakah paduka berkenan menerima sekarang atau menyuruhnya menunggu sampai esok hari?”
“Baiklah, suruh dia menghadapku. Aku penasaran ada apa gerangan ia ingin bertemu denganku.”
“Terimakasih yang mulia.”
Merpati pergi meninggalkan kediaman sang raja untuk menemui Semut yang menunggu di gerbang kerajaan.
“Bagaimana tuan hulubalang? Apakah sang raja berkenan meneriman saya hari ini?” Semut langsung bertanya ketika melihat Merpati sudah berada dihadapannya kembali.
“Sang raja menunggu kedatanganmu sekarang.”
“Terimakasih tuan Merpati. Kalau begitu saya akan segera menemui yang mulia. Sekali lagi saya ucapkan terimakasih.”
Tanpa menunggu jawaban Merpati, Semut masuk kedalam kerajaan guna bertemu raja baru yang telah menindas rakyatnya.
“Ada apa kau ingin bertemu dengan denganku?” Tanya Gajah ketika Semut sudah berada dihadapannya.
Semut kemudian menjelaskan bahwa kedatangannya kali ini untuk menyampaikan keluhan dari warganya tentang apa yang telah dilakukan oleh Gajah tadi pagi.
“Tidak sedikit dari saudar-saudara hamba yang meninggal karena terinkaj oleh kaki paduka”. Jelasnya melanjutkan.
“Lantas apa yang kau inginkan?”
“Hamba hanya mohon agar paduka lebih memperhatikan setiap jengkal jalan yang hendak yang mulia lewati. Disamping perjalanan yang mulia akan lebih aman, juga tidak akan menimbulkan malapetaka bagi yang lainnya.”
Gajah terdiam mendengar nasehat dari sang Semut. Namun ia diam bukan karena tersentuh hatinya, malainkan lebih disebabkan oleh kemarahannya yang tertahan. Aku adalah raja dan memiliki kekuatan yang sangat besar. Mengapa harus mendengarkan nasehat dari hewan kecil seperti Semut? Demikian pikirnya.
Tapi sebagai raja, ia tetap harus menjaga perasaan dari rakyatnya. Gajah harus tetap bias berkata lembut walaupun hatinya tengah dilanda kemarahan.
“Kalau begitu baiklah. Aku terima saran darimu. Sekarang kembalilah kau kepada trakyatmu dan sampaikan permintaan maafku pada mereka.” Kata Gajah dengan manis.
“Terimakasih banyak yang mulia, rasanya memang tidak salah kalau sang Harimau memberikan kepercayaanya kepada tuan. Hamba mohon pamit.”
Gajah melepaskan kepergian Semut dengan tatapan mata sinis. Ia merasa terhina karena diperingatkan oleh seekor hewan yang sangat kecil dan lemah.
“Berani sekali Semut itu.” Gumam sang Gajah.
Seperti hari yang lalu, pagi itu sang Gajah keluar dari kediamannya untuk sekedar berjalan-jalan melihat daerah sekelilingnya. Beberapa lama berjalan, ia melihat sekelompok Semut yang tengah berjalan untuk mencari makan. Seketika itu pula sang raja baru ini teringat akan kata-kata pemimpin Semut yang menemuinya kemarin. Kebenciannya pada hewan kecil itu tiba-tiba memuncak dan muncullah niatnya untuk meluapkan sakit hatinya.
Dengan kepala mendongak penuh kecongkakan, sang Gajah mempercepat langkahnya guna melampiaskan kemarahannya dengan cara menginjak ratusan semut yang tengah berjalan beriringan. Akibatnya ratusan Semut tersebut terluka dan mati.
Puas dengan apa yang dilakukannya, Gajah meninggalkan ratusan Semut yang terluka dan mati. Sementara Semut yang bisa menyelematkan diri segera melaporkan kejadian tersebut kepada raja mereka. Mendengar kejadian yang menimpa rakyatnya, meledaklah kemarahan pemimpin Semut ini. Ia tidak menyangka ternyata janji Gajah padanya hanyalah omong kosong belaka. Tidak menunggu waktu lama, raja Semut ini kemudian mengumpulkan seluruh rakyatnya dan jutaan Semutpun berbondong-bondong memenuhi panggilan pemimpin mereka.
Raja Semut yang tengah marah ini lantas mengatakan apa maksudnya memanggil semua rakyatnya untuk berkumpul. Ia menjelaskan bahwa Gajah telah menindas bangsa Semut, sang raja juga menceritakan bahwa Gajah juga telah melanggar janji dan kesepakatan dengannya.
“Kita harus melawan pemimpin seperti itu.” Raja Semut menambahkan.
“Bagaimana kita bisa melawan Gajah yang teramat kuat dan besar?” Tanya salah seorang Semut nampak ragu.
“Jika kita semua mau bersatu, rasanya tidak ada yang tidak mungkin. Kita berjumlah jutaan dan mempunyai satu tujuan yaitu mengalahkan pemimpin yang menindas kita.”
“Apakah anda punya gagasan untuk mengalahkan sang Gajah yang perkasa tuanku?”
Pemimpin Semut inipun terdiam sesaat mendengar pertanyaan dari salah satu warganya. Namun tidak lama ia termenung, raut wajah sang pemimpin ini kembali berseri.
“Aku punya ide!” Demikian katanya penuh kegirangan. “Namun kita semua harus bekerja sama dan bahu-membahu.” Tambahnya
“Apa yang menjadi gagasan anda tuan? Bukankah selama ini kita selalu saling membantu dan bekerja bersama-sama? Jadi bukankalah sebuah masalah apabila anda menyuruh kami untuk bekerjasama. Katakan, apa yang menjadi ide yang mulia?”
“Ikutilah aku. Aku akan menunjukkan rencanaku kepada kalian.”
Raja Semut berjalan keluar dari sarangnya dengan diikuti oleh jutaan rakyatnya. Ternyata raja Semut ini menuntun rakyaknya ke sebuah lubang besar yang terletak tidak jauh dari telaga tempat Gajah biasanya mandi diwaktu pagi. Lubang itu cukup tersembunyi diantara semak dan ilalang.
Sampai ditempat itu, sang raja kemudian memerintahkan jutaan rakyatnya untuk memungut ranting dan dedaunan keraing untuk menutup lubang tersebut. Tanpa banyak pertanyaan, jutaan pasukan Semut melaksanakan perintah dari sang raja. Mereka bekerja sama saling bahu-membahu mengangkut ranting-ranting kering yang banyak ditemukan disekitar telaga itu. Untuk memindahkan ranting yang sangat besar bagi mahluk seukuran Semut, tidak menjadi sesuatu yang berat karena mereka mengerjakannya secara bersama. Setelah semua lubang tertutup oleh ranting-ranting pohon, sang raja kemudian memerintahkan untuk kembali menutupnya dengan dedaunan kering dan ilalang.
Hari belumlah malam ketika seluruh bagian dari lubang besar itu tertutup oleh ranting dan dedaunan kering.
“Esok hari, ditempat ini kita akan menghentikan penindasan sang Gajah kepada kita.” Kata sang raja.
“Saya belum mengerti apa yang tuan maksudkan?”
“Kita akan menjebak Gajah disini.” Jelasnya. “Kita akan memancing Gajah untuk sampai ketempat ini. Malam ini, kita semua akan menginap disini dan besok aku akan memimpin kalian untuk memancing Gajah sampai ketempat ini. sekarang beristirahatlah, karena besok pagi kita akan melakukan sesuatu yang melelahkan.”
Demikianlah, jutaan Semut akhirnya menginap di lubang tersebut. Mereka semua menebak-nebak apa yang menjadi rencana dari sang raja yang katanya hendak menghentikan penindasan Gajah terhadap mereka. Namun karena lelah setelah bekerja keras seharian, jawaban dari pertanyaan mereka tidaklah terjawab. Pada akhirnya para semut itu lelap tertidur.
Hari yang ditunggu akhirnya datang juga. Kokok ayam jantan mulai terdengar memecah keheningan. Langit yang semula gulita nampak mulai memerah dan sang mentari perlahan-lahan muncul di ufuk timur. Raja Semut dan seluruh rakyatnyapun terbangun. Tanpa diperintah, sebagian Semut langsung pergi mencari makanan. Sang raja juga langsung berdiri ditengah-tengah rakyatnya menjelaskan apa yang menjadi rencananya.
“Seperti biasa, aku kira Gajah akan datang ketelaga itu untuk mandi dan berendam. Sebelum ia sampai ditempat tujuannya, aku dan beberapa dari kalian akan mengganggu perjalannya dengan jalan menggigit sang Gajah. Sementara lainnya bersembunyi dan menunggunya di sekitar lubang jebakan.”
“Kenapa harus tuan yang membawa Gajah kemari? Bukankah banyak dari kita yang mau melakukan tugas itu?” Seekor Semut menanggapi.
“Aku adalah pemimpin kalian, jadi kalaupun ada yang harus terluka ataupun mati dalam rencana ini maka akulah orangnya.”
“Tapi siapa yang akan memimpin kami nantinya kalau terjadi apa-apa dengan anda? Lebih baik tugas untuk memancing Gajah kemari biarlah hamba yang melakukannya.” Ucap Semut lainnya yang ternyata mendapat dukungan dari semua Semut yang ada di tempat itu. Sang raja tidak bisa menolak permintaan dari seluruh rakyatnya. Akhirnya ia memilih beberapa Semut untuk menggantikan tugasnya.
Dari kejauhan, rombongan Semut yang semula pergi untuk mencari makan juga telah kembali. Semua Semut-semut kemudian makan bersama-sama untuk kesiapan tenaganya dan mendengarkan paparan mengenai rencana sang raja.
Benar saja, tidak beberapa lama setelah semua Semut selesai makan, sayup terdengar suara Gajah memecah kesunyian hutan. Puluhan Semut yang diserahi tugas untuk menggiring Gajah ke dalam lubangpun berangkat kejalan setapak yang hendak dilalui sang raja hutan itu.
Tak lama menunggu, tubuh besar sang Gajah mulai terlihat menerobos rimbunnya hutan dan semakin mendekati puluhan semut yang telah menunggunya. Begitu kaki besar dari sang Gajah berada dihadapannya, pemimpin rombongan Semut itu segera merayap naik ketubuh besar itu. Sementara yang lainnya berjajar mengarah ke lubang jebakan yang telah mereka persiapkan. Semut yang merayap di kaki Gajah kamudian menggigit kaki itu sekuat tenaga. Walaupun tidak begitu saja, tentu saja gigitan itu mengagetkan sang raja hutan.
Gajah menatap kakinya dimana didapatinya seekor Semut kecil menggigitnya. Ia sangat marah karena hal itu. Kemudian dihentak-hentakkan kakinya ketanah dengan tujuan Semut tersebut jatuh. Benar saja, Semut kecil itu tidak mampu menahan hentakan kaki sang Gajah yang berusaha untuk melepaskan gigitannya. Pada akhirnya hewan kecil itupun jatuh ketanah dan langsung berlari kearah lubang yang telah mereka persiapkan.
Kemarahan benar-benar membuat Gajah gelap mata. Ia kemudian berlari mengejar Semut yang menggigitnya, dan ternyata ia juga melihat puluhan Semut lainnya disekitar tempat itu. Gajah semakin bersemangat mengejar Semut-semut yang berlarian menuju lubang jebakan. Semut-semut yang menjadi umpan itu akhirnya sampai di tengah tengah lubang jebakan, dan berpura-pura kelelehan.
Menyaksikan hal itu, tanpa pikir panjang, Gajah melompat hendak menginjak mereka dengan kaki raksasanya. Namun apa yang dibayangkan tidaklah seperti apa yang ada dipikirannya. Hewan raksasa itu terperosok masuk lubang ketika kakinya menginjak dedaunan kering penutup lubang.
Sang raja hutan ini mengeluarkan suara melengking keras karena sadar telah masuk kedalam jebakan. Usaha kerasnya untuk keluar dari lubang jebakan yang dalam dan besar itu sia-sia belaka.
Menyaksikan kejadian itu, raja Semut yang semula bersembunyi bersama jutaan rakyatnyapun keluar. Bersama-sama mereka menuju lubang dimana sekarang ini Gajah terjebak. Beramai-ramai Semut-semut ini menaiki tubuh raksasa yang telah menindasnya. Gajahpun tidak tinggal diam, ia membentur-benturkan tubuhnya pinggiran lubang untuk menghalau Semut-semut tersebut. Usahanya berhasil membuat puluhan bahkan ratusan Semut mati, namun yang menyerangnya kali ini berjumlah jutaan. Dan tidak sedikit dari mereka yang telah berhasil memasuki telinganya dan lubang belalainya.
Gajah berteriak kesakitan dan meminta ampun kepada Semut-semut yang telah disakitinya. Namun teriakan kesakitan dan rintihan minta ampun dari sang Gajah tidak bisa membuat Semut berhenti menggigit seluruh tubuh raksasa itu. Karena begitu banyaknya Semut yang berhasil masuk kelubang telinga dan belalainya akhirnya Gajah menyerah. Ia terus berteriak meminta tolong kepada siapa saja yang mendengarnya.
Sementara itu, Harimau yang dalam perjalanan pulang setelah ditipu mentah-mentah oleh si Kancil, kebetulan berada di dekat tempat tersebut. Telinganya yang tajam mendengar teriakan meminta tolong.
“Sepertinya aku kenal dengan suar itu.” Kata Harimau dalam hati.
Harimau berlari secepatnya menuju sumber suara tersebut. Tidak butuh waktu yang lama, ia sampai juga kesumber suara. Betapa kagetnya sang Harimau ketika melihat kejadian didepannya.
“Hentikan!” Bentak Harimau kepada jutaan Semut.
Suara menggelegar dari Harimau tentu saja membuat smua Semut terperanjat. Serta merta mereka berhenti menggingit Gajah yang tidak berdaya itu. Namun karena luka yang dideritanya terlalu parah, maka nyawa sang Gajah sudah tidak bisa tertolong lagi. Akhirnya hewan besar yang gagah perkasa harus mati ditangan para Semut-semut kecil yang dianiaya olehnya.
Tewasnya sang Gajah tentu saja membuat Harimau marah. Namun, kemarahannya perlahan-lahan mereda setelah mendengar penjelasan dari raja Semut tentang penindasan yang dilakukan sang Gajah. Sontak cerita dari raja Semut menyadarkan Harimau bahwa segala yang tidak mungkin bisa menjadi mungkin dan terwujud dengan usaha yang keras dan bersatu.
Akhirnya, raja hutan ini memerintahkan kepada raja Semut dan pasukannya untuk menguburkan mayat sang Gajah secara baik-baik dan memaafkan semua Semut beserta pasukannya yang telah membunuh wakilnya di hutan itu. Menyaksikan kenyataan yang baru saja terjadi, raja hutan yang gagah perkasa ini menjadi semakin sadar bahwa ia sebenarnya hanyalah mahluk kecil yang dapat dengan mudah dikalahkan. Semua keperkasaannya akan sia-sia jika ia berkelakuan buruk. Sekelompok hewan yang dianggapnya lemah bisa saja membunuhnya dengan mudah jika ia bertindak lalai.

baca selanjutnya ..